Malaikat Untuk Cia
Malaikat Untuk Cia
by: Kiko
All my friends are toxic all, ambitionless
So rude and always negative
I need new friends but it’s not that quick and easy
Oh I’m drowning, let me breathe
Aku menirukan setiap lirik yang menggema, jari tanganku menari bebas, melaju mengikuti ritme tanpa batas. Mataku terpejam, menambah syahdu heningnya malam dalam balutan luka masa lalu yang kelam.
Seperti itulah yang selalu aku terima di masa SMP-ku. Semua memori itu terekam jelas di ingatan. Wajah-wajah mereka masih terpatri dalam rasa sakit yang tetap membekas meski tidak sesakit ketika aku masih menginjak bangku SMP. Tiga tahun yang aku habiskan dengan penuh luka meski aku menghiasinya dengan banyak prestasi yang aku punya. Aku ingat betul, setiap kali aku pulang sekolah, aku hanya mengurung diri di kamar atau menangis dalam hening. Tidak ada yang memedulikanku, kecuali ibu yang selalu memelukku.
Pyaarrrr….
“Arrghhhh.” aku memberantakkan rambutku, “Gue benci hidup gue! Gue benci diri gue. Kenapa gue begitu lemah?!”
Aku terus menangis dalam kesendirian, tidak ada pundak untuk bersandar. Tidak ada telinga untuk mendengar, tidak ada kehangatan. Di ruang lain, ibu sudah tertidur pulas, melepas lelah.
Aku terus menatap diriku di cermin, melihat setiap aliran air yang terus menetes melewati pipi dan bibir itu. Namun, beberapa notif line yang masuk di ponsel mengejutkanku.
Line…
Line…
Line, line…
"Halo Cia, selamat datang di OC Zona Nyaman. Semoga betah ya."
"Halo kak Cia."
Banyak sambutan hangat yang entah kenapa membuatku merasa lebih dihargai meski hanya di media sosial. Hal yang bahkan tidak pernah aku rasakan sebelumnya di dunia nyata.
Halo semua, thank you ya sambutannya. Salam kenal juga dari aku, Cia.
“Cia askot mana nih?” balas Leon.
“Gue askot Purwokerto aja.”
“Oh, gue askot Jogja sih. Yaudah, semoga betah ya di OC ini.”
“Yoi, thanks Leon.”
Waktu menunjukkan pukul 9 malam, mataku terus meminta pergi ke negeri dongeng sampai akhirnya aku terlelap. Paginya, mentari menyapa dengan hangat. Senyumnya merangkul mesra penduduk bumi. Andai ia bisa bicara, mungkin ia juga akan menyapaku.
“Pagi, bu.”
“Pagi sayang. Gimana, siap untuk masuk SMA?” tanya ibu.
“Siap dong….”
“Nah gitu dong, semangat!"
“Yaudah, Cia berangkat dulu ya,” sahutku.
“Loh ngga sarapan?”
“Tadi Cia udah sarapan dikit pake oats, bu.”
“Oh, yaudah. Hati-hati ya sayang,” Ibu mengecup keningku, “Mmmuaah.”
“Hehehe, bye Ibu.”
“Bye, sayang.”
Singkat cerita, ini adalah hari pertamaku masuk sekolah setelah melewati beberapa tahapan masa orientasi siswa yang melelahkan. Sekolahku terlihat bagus dengan gedung 3 lantai. Semua orang terlihat sudah saling mengenal kecuali diriku. Aku hanya berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelasku.
Kelas 11 A. Ya, ruangan itu terletak di ujung koridor ini. Aku harus melewati segerombolan siswa laki-laki yang beberapa kali mencuri pandang terhadapku.
“Okay, Cia. Tenang, everything’s gonna be oke..” gumamku lirih.
Sesampainya di kelas itu, hanya ada 1 bangku yang masih kosong, dan itu tepat di depan meja guru. Aku meletakkan tasku di atas meja, lalu duduk dan menyenderkan kepalaku di meja sejenak. Tiba-tiba, seseorang datang mendekatiku.
“Hai, gue Sakura.”
“Hai, gue Cia.”
“Cia?”
Aku menatapnya heran, namun Samara masih mencoba terus mengingat tentang siapa diriku.
“Oh, gue ingat. Jangan bilang lo Cia yang di OC Zona Nyaman, iya kan?”
“Hah? Kok lu bisa tau?”
“Hahaha,” gadis itu tertawa keras, “ya tau, lah. Gue Sakura, inget nggak lo?”
“Astaga, hahaha. Jadi lo yang semalem nyapa gue di OC?”
“Nah betul sekali. Ngga nyangka banget gue bisa ketemu lo di dunia nyata, haha.”
“Iyanih, kocak banget ya kita.”
“Gue mau pamer ah di OC. Bentar ya, gue tag lu.”
“Oke."
Line...
Sebuah notifikasi line muncul diponselku.
“Nah tuh, coba lu buka,” pintanya.
“Gais, haloooo. Gue ternyata 1 kelas sama @Cia hahaha, ngakak banget gue.”
“Hahaha, gue bales apa nih di OC?”
“Apa aja sesuka lo.”
“Oke, gue bales ya di OC.”
“Iya nih guys, ngga nyangka banget bisa ketemu sama @Sakura di dunia nyata, hahaha.”
Sejak saat itu, hubunganku dengan Sakura semakin erat. Dia satu-satunya sahabat yang selalu menemaniku sebelum akhirnya kita dihadapkan banyak masalah. Satu bulan sudah aku di SMA, persahabatanku dengan Sakura semakin erat. Siang itu, ia memintaku untuk tidak pulang dulu. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan, tapi sepertinya ada kejutan untukku.
Udara begitu terik, merasuk ke rongga dada tempat jantungku berdetak. Rintik air mulai memenuhi wajah dan tubuhku, membasuh jiwa yang lama menunggu.
“Hey….” Sebuah tepukan keras mendarat di pundakku. Wajahnya sumringah seperti matahari yang bersinar cerah.
“Astaga,” aku menghela napas, “ngagetin gue aja lu.”
“Hehehe, nih es krim buat kamu.” Sakura menyuguhkan dua es krim coklat untukku dan dirinya.
“Dih, tau aja lu gue suka es krim coklat, haha.”
“Tau lah, kan gue sahabat lo.”
“Eh, menurut lo, Leon ganteng ngga?” tanya Sakura.
“Uhuk,” aku tersedak, “tumben tanya gitu, lu lagi nggak demam, kan?”
“Ya nggak lah. Jadi gimana menurut lo, Leon ganteng ngga?”
“Ummm, ganteng si. Tapi kan cuma di online, huh.”
“Eh lu naksir, ya? Hayo ngaku.”
“Apaan sih lu, udah ah jangan bahas dia.”
“Hilih, bilang aja naksir kan, hahaha.”
“Tapi kalo dilihat-lihat, Leon ganteng juga sih,” gumamku dalam hati.
“Eh, ra, gue boleh pinjem hp lu ngga buat foto? Handphone gue memory penuh nih.”
“Boleh dong, nih pakai aja.” Sakura memberikan smartphone nya dengan ramah.
“Eh gue ke toilet bentar ya, awas lo jangan balik dulu.”
“Iya siap bos,” sahutku.
Seketika rencana jahatku muncul. Aku mulai mentransfer beberapa foto Sakura ke ponselku secara diam-diam. Aku yakin, melalui foto dia yang berparas ayu, aku bisa meraih hatinya Leon.
Awalnya aku bingung bagaimana cara aku bisa mendekati Leon dengan berpura-pura sebagai Sakura. Namun ternyata takdir memberiku sebuah jalan. Sehari selepas aku mengambil foto Sakura diam-diam, dia ternyata keluar dari OC dan itu membuaku mempermudah segalanya.
“Malam semua, gue pamit dulu ya mau keluar OC, gue ada banyak urusan. See ya!”
Pesan singkat itu membuatku sangat girang, satu menit kemudian aku ikut keluar dan masuk lagi sebagai orang yang berbeda.
“Hy, gue come back!” tulisku singkat.
“Loh @sakura katanya banyak urusan, kok lu balik lagi,” tanya Leon.
“Takut lu kangen sama gue kalo gue pergi @Leon, hahaha.”
“Oh, haha. Baiklah….” Leon hanya mengisyaratkan sedikit kepeduliannya untukku. Tapi tak mengapa, yang penting dia tidak tahu bahwa Sakura adalah aku.
Sejak saat itu, hubunganku dengan Leon semakin dekat. Kita bahkan sampai bertukar nomor WhatsApp dan terus komunikasi dengan intens. Dia juga orang yang romantis dan selalu mengirim pesan penuh makna untukku.
“Kita adalah sebuah waktu, terus berdetak meski kenangan terus berlalu.” Meski terdengar sendu, namun kalimat itu sangat membekas di relung hatiku. Aku pun membalasnya.
“To my favourite person:
Mencintai diriku tidaklah mudah, aku banyak berfikir, aku punya kecemasan, tetapi terimakasih telah mencoba. Aku sangat menghargainya, dan aku hanya berharap bahwa kamu tidak akan bosan denganku, mencintaiku apa adanya. Aku bukan siapa-siapa, tapi karenamu aku merasa spesial.”
Kling, sebuah emot love berwarna merah ia kirimkan kepadaku.
Selang satu jam, tiba-tiba Sakura mengirim pesan untukku.
“Cia, are you there?”
“Hy, Sakura! Ya, aku disini, gimana?”
“Gue punya berita bagus nih,” balasnya singkat.
“Apatuh?”
“Lo besok dandan yang cantik ke sekolah, pangeran lo bakal dateng.”
“Hah? Maksudnya,” tanyaku. Namun pesanku hanya di baca oleh Sakura.
Esok harinya, sebuah mobil mewah melaju ke arah parkiran utama. Tampak seorang bodyguard keluar dari mobil dan berlari ke pintu belakang, membukakan pintu mobil lalu membungkukkan badannya. Seseorang keluar dari balik mobil itu.
“Sakura,” gumamku lirih. Tak berselang lama, disusul sosok lelaki tinggi yang tak asing bagiku. Mereka menatapku, lalu melangkah ke arahku.
“Hai, Ciaaa,” sapanya Sakura ramah.
“Hai, kalian kok,” aku memainkan mataku menatap mereka bergantian.
“Cia, kenalin dia Leon. Tapi gue numpang mobil dia, hehe.”
“Oh, hy Leon,” aku mengulurkan tanganku, “gue Cia.”
Leon hanya menyimpulkan senyum dan menyipitkan matanya, lalu berjalan menjauh. Sakura pun berlari mengejarnya tanpa kata.
Sejak sebulan kepindahan Leon di SMA ku, banyak cewe yang terus mengejarnya. Sayangnya, dia bukan tipe cowo yang suka tebar pesona. Dia hanya bicara seperlunya saja.
Waktu pun terus berlalu. Siang itu, aku tidak melihat Sakura, hanya ada Leon yang sedang menikmati buku bacaannya di kantin sekolah dengan satu gelas jus alpukat di meja. Aku memperhatikannya dari jauh, dia terlihat sangat manis meski raut wajahnya begitu serius. Seketika, dari arah berlawanan, terlihat Sakura yang berjalan ke arah Leon, lalu duduk di sampingnya dan memanggilku.
“Cia, sini gabung sama kita.”
Leon menengok ke arahku, “sini,” sahut Leon, “ayo gabung.”
Deg, tiba-tiba jantungku seperti lepas dari tempatnya.
“Oh, iya.” Aku bergegas ke meja mereka dan aku duduk tepat di hadapan Leon.
Aku baru merasakan yang namanya sebuah persahabatan dan cinta. Beda sekali dengan masa laluku yang penuh bulian dan trauma. Sekarang, aku menemukan Sakura dan Leon yang membuatku jauh lebih baik.
“Hahaha.” Leon tertawa begitu keras. Dia benar-benar membuatku jatuhcinta di dunia nyata maupun virtual.
“Cia, menurut lo, kebohongan dalam persahabatan bisa di maafkan?”
“Uhuk,” aku tersedak, tiba-tiba suasana menjadi sangat serius, “maksudnya?”
“Kalau kamu dibohongin sama sahabat kamu, apa yang kamu rasa?”
“Kecewa si, pasti.”
“Kalau foto kamu dipakai sama orang untuk hal-hal buruk, kamu marah ngga?”
Aku hanya diam memikirkan sebuah jawaban.
“Kalo ngga bisa jawab sekarang ngga papa, gue pergi dulu.” Sakura mendorong kursinya ke belakang dan bergegas pergi.
“Gue cabut dulu yah, bye.” ucap Leon.
Sejak kejadian itu, hubunganku dengan Sakura semakin renggang. Entah apa yang terjadi, namun setiap kali aku menyapa, dia pasti selalu menghindar. Berbanding terbalik dengan hubunganku dengan Leon yang semakin erat.
Dua minggu pun berlalu dan hari ini tepat hari ulang tahunku, tepat 3 bulan pula aku memerankan peran sebagai Sakura. Baru saja aku ingin menelpon Sakura, ia sudah lebih dulu menelponku.
“Halo,” ucap Sakura.
“Halo besti, gue kangen banget sama lu.”
“Besok dateng ya ke kafe Kenangan jam 3 sore.”
“Harus banget ya, Sa--” Sakura menutup telponnya begitu saja.
Denting jam pun terus berlagu, memaksa seisi kepala terus bekerja. Ragaku terus gelisah mencari jawaban atas pertanyaan yang tercipta.
Hari pun berganti, “Oke, Cia, hari ini lo harus jujur ke Sakura kalo lo udah bohongin dia.” Aku menarik napas panjang dan menghela, lalu berjalan memasuki Kafe tempat aku dan Sakura bertemu.
Baru beberapa langkah, aku terhenti. Bagaimana mungkin Sakura begitu mesra dengan Leon.
“Sayang, enak ngga makanannya”
“Enak dong, apalagi di suapin sama kamu.” Leon mencubit pipi Sakura.
“Haha, bisa aja lo.”
Aku terus mendekat dan semakin mendekat, menyaksikan kepahitan tepat di depan mataku. Ternyata sahabat yang selama ini aku percaya justru menusukku dari belakang.
“Hey, Cia. Lo udah datang ternyata” ucap Sakura lirih.
“Kok lu jahat banget sih ke gue?” tanyaku
“Gue jahat? Lu yang jahat ke gue, Cia!” bentak Kai.
“Gue?”
“Iya. Gue tau kok kalo lu jadi orang lain demi bisa dekatin gue. Lo role-play jadi Sakura biar lo bisa akrab kan sama gue?”
“Tapi gue punya al--”
“Apa? Lo punya apa? Lo punya alasan kenapa lo nglakuin itu, iya?!”
“Kei, udah stop it!” Sakura mencoba menengahiku dan Kei, tetapi Kei masih terus menatapku tajam.
“Udah, lo duduk dulu, biar gue yang jelasin ke Cia..” ucap Sakura pelan.
“Nggak perlu!” bentakku.
“Cia, lu tau ngga? Ini semua ngga seperti yang lo bayangin.” Tangannya meraih pundakku, mencoba menjelaskan tetang semua yang terjadi.
“Maksud lo apa ngomong kaya gitu?” Napasku terengah, emosiku semakin memuncak
“Makanya lo dengerin gue dulu!” Sakura menggebrak meja di sampingnya.
“Enggak, semua udah jelas. Lo udah hianatin gue.”
“Gue ngga hianatin lo, gue cuma pengin nyadarin lo, Cia. Lu ngerti nggak, sih?!”
“Cukup! Gue ngga mau denger apapun lagi. Makasih buat pertunjukannya!” Aku berlari meninggalkan mereka, berlalu secepat mungkin yang aku bisa.
Hari itu benar-benar kacau, langit pun ikut menangis lalu mendekapku dalam derasnya hujan. Ini semua terasa begitu menyakitkan, mereka alasan aku bisa bangkit, tapi mereka juga yang membuatku kembali jatuh dengan sakit yang berkali-lipat.
“Aaaarghh, Tuhan, kenapa harus gue yang ngalamin semua ini..” Aku terus menangis sepanjang jalan hingga akhirnya hujan mereda.
Tok, tok, tok…
“Bu, Cia pulang.”
Tok, tok, tok….
“Ibu, bukan pintu. Cia pulang.”
Ceklek…
Suara pintu perlahan terbuka, menampilkan sosok malaikat yang selalu ada untukku di setiap waktu.
“Sayang, kamu habis hujan-hujanan?” wanita itu memegang kedua pundakku.
“Ngga papa kok, bu. Cia cuma rindu hujan aja.”
“Ngga papa gimana, kamu aja sampe pucet seperti itu.” Ibu memelukku dan memastikan bahwa putrinya baik-baik saja.
“Cia ngga papa kok, bu….”
“Udah sekarang kamu masuk dulu, biar ibu siapin air anget ya buat kamu mandi.”
“Iya, bu. Makasih.” Aku memeluknya erat seraya menahan tangisku, namun mataku tak bisa berbohong. Ia terus saja menjatuhkan airnya tanpa jeda.
“Ya sudah, ibu ke dapur dulu ya.”
“Iya.” Aku mengangguk dan menyimpulkan senyumku beberapa saat.
Sejak pertengkaran itu, hariku mulai berantakan hingga bolos sekolah beberapa hari. Aku juga sedikit berbeda dari yang biasanya ceria dan menyapa teman-teman online ku di Line, sekarang tidak lagi seperti itu.
“Harusnya waktu gue dengerin penjelasan mereka dulu, jangan langsung emosi. Huh..” gumamku lirih.
Line…
Tiba-tiba ponselku berdering, separuh notifikasi muncul di layar.
Hai guys, selamat malam.
Gue mau pamitan sama kalian semua, thank you banget kalian udah nemenin hari-hari gue sampai detik ini. Sampai jumpa di lain waktu, yah. Kai.
Kai meninggalkan obrolan…
Selang beberapa menit, di susul oleh beberapa anggota lain yang juga keluar dari Open Chat itu.
“Lah? Ini Kai kenapa left OC? Apa karena aku? Apa dia tau ya kalau Sakura yang di OC itu sebenarnya aku,” gumamku.
Beberapa saat kemudian, sebuah akun dengan nickname @Lim muncul dengan pesan yang membuatku kaget.
Halo @Sakura, saya tau kok anda bukan Sakura. Saya tahu kok anda hanya role-play di OC ini. Saran saya, lebih baik anda jujur dan minta maaf sama orang-orang yang terkait sebelum anda kehilangan kesempatan.
Pesan itu benar-benar membuatku bingung. Bagaimana mungkin mereka bisa tau kalau Sakura itu sebenarnya aku. Tapi aku juga salah, berpura-pura menjadi orang lain demi mendapatkan hati Kai. Kai juga tak pernah membalas pesanku lagi sejak pertengkaran itu.
Akhirnya aku memberanikan diri mengajak Sakura dan Kai ketemu, berharap mereka mau menemuiku esok hari.
Kling…
“OK.” Sebuah jawaban singkat dari Sakura.
“Mungkin aku akan kehilangan Sakura, mungkin aku akan kehilangan Kai sebagai orang yang aku cinta. Mungkin juga aku kehilangan keduanya. Tapi haruskah aku pasrah dengan keadaan?” Malamku begitu rumit. Lalu isi kepalaku mulai memanas dihujani banyak pertanyaan dan ketakutan hingga akhirnya aku tertidur tanpa sengaja.
Kini, malam pun telah meninggalkan jejaknya, sementara mentari terus memberikan senyuman hangat untuk semesta. Tidak banyak hal yang aku lakukan pagi ini, aku hanya menyiapkan mentalku untuk mengatakan yang sejujurnya terhadap mereka.
Suasana cafe itu begitu tenang, hanya ada beberapa tamu yang singgah. Di sudut kanan, sudah terlihat Sakura dan Kai dengan ponsel di tangan mereka.
“Hai, kalian datang lebih awal ternyata.”
“Hai, Cia. Duduk aja, gue udah pesanin minum buat kita bertiga,” ucap Kai.
“Oh iya makasih, Kai.”
“Langsung aja deh, mau lo atau gue dulu yang jelasin semuanya?” sahut Sakura.
“Gue dulu aja.”
“Okay.”
“Pertama, gue mau minta maaf sama lo, Sakura. Mungkin lo udah tau tentang gue yang pakai foto lo di ava line oc gue. Gue nggak pede sama diri gue buat deket sama Kai, makanya gue pakai ava lo diem-diem.”
“terus?’ sahut Kai.
“Kedua, gue suka sama lu, Kai. Tapi lo pasti taunya Sakura yang suka sama lo kan, bukan gue.”
“Gue tau kok dari lama. Gue tau dari cara lu typing dan cara lu bersikap ke gue itu gimana. Sakura juga tau kalo lo pakai foto dia buat deketin gue.”
“Iya gue salah, gue salah banget. Gue mohon banget maafin gue ya, gue ngga pengin kehilangan kalian, tapi gue juga sadar gue udah kecewain kalian.” Air mataku perlahan menetes, aku tak bisa membendung semua rasa penyesalan itu terhadap mereka.
Tiba-tiba tangan kiri Kai menggenggam tanganku erat, “Cia, gue juga sayang sama lu. Gue tau cara lu salah, tapi gue bakal kasih kesempatan kedua buat lu,” lalu tangan kanannya mengusap air mataku.
“Tapi lo kan punya Sakura.”
“Hahaha, Cia. Lo itu salah paham, sebenarnya Kai itu kakak gue. Makanya dia bisa tau tentang kebohongan lo selama ini.”
“Bentar otak gue ngelag.”
“Jadi, yang lo liat gue berduaan sama Kai waktu itu, itu cuma rencana kita biar lo sadar kalo lo salah. Sebenarnya kita itu adek kakak, bukan pacar.”
“Iya, jadi si Sakura ini,” Kai berantakin rambut Sakura, “dia itu adek gue, Cia. Paham kan?”
“Rese lo kak, pake berantakin rambut gue segala.”
“Ngga papa, biar mencairkan suasana, iya nggak, Cia, “ tanya Kai kepadaku.
“Iya bener, biar ada kehangatan lagi di antara kita, hehe.”
“Oh ya, itu selamat ulang tahun ya, Cia.” ucap Sakura.
“Eh tapi jujur gue malu banget loh sama kalian, gue udah jahat tapi kalian masih sebaik ini sama gue. Gue gatau harus ngomong apa lagi.”
“Cia, gue paham kok lo kaya gini pasti karena efek dari bulian yang lo alami dulu, makanya lo jadi ngga percaya diri. Tapi bagi gue, lo berhak kok dapat kesempatan kedua. Maafin gue juga ya, beberapa hari ini gue cuekin lo dengan sengaja.”
“Wajar kalo lo marah ke gue, kan gue pakai foto lo buat deketin Kai. Maafin gue ya.”
“Iya, gue udah maafin kok. Mulai sekarang lo harus janji ya ke diri lo sendiri kalo lo bakal tetep jadi diri lo sendiri, ngga boleh jadi orang lain. Apapun alasannya.”
“Siaaap.” Aku memeluk Sakura erat, lebih erat dari biasanya. Rasanya semua lukaku terobati tanpa perih dengan keajaiban yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya.
“Dan lo juga harus janji buat jaga hati lo buat gue, karena mulai sekarang lo adalah pacar gue,” sahut Kai.
“Maksudnya, Kai?”
“Iya, gue sayang sama lo, Cia. Ya meskipun lo harus berpura-pura jadi orang lain buat dapetin hati gue,” Kai menggenggam erat tanganku, “tapi jujur lo berhasil dapetin hati gue dan gue terima lo apa adanya.”
“Kai, Sakura, makasih ya kalian udah kasih kesempatan kedua buat gue. Gue bakal jaga kepercayaan kalian dengan baik, gue pastiin itu.”
“Iya, sayang. Sama-sama, hehe.”
“Yay, akhirnya gue bisa panggil Cia sebagai kakak ipar, hahaha.”
“Hahaha” Aku tertawa bahagia.
Terimakasih, Tuhan atas kado indah yang aku terima. Terimakasih telah mengirimkan mereka berdua sebagai pelengkap hidupku. Mulai sekarang, aku akan lebih mensyukuri dan menghargai apa yang aku miliki. Aku sayang diriku.
Hy, thank you for reading!
Semoga ceritanya menghibur, dan untuk kalian yang ingin memberi kritik dan saran bisa ditulis di kolom komentar, ya :)
Salam hangat,
Okta Keiko
Komentar
Posting Komentar